Ada lagu-lagu yang sering diputar menjelang atau pada hari raya Idul Fitri. Warga Indonesia sering kali mengenalnya dengan “lagu lebaran”. Lirik lagu ‘selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin. Minal aidin wal fa’idzin, maafkan lahir dan batin’, sudah familiar di telinga kita. Tak hanya di Tanah Air, di negeri jiran pun lagu-lagu ini sering diperdengarkan. Terkadang kita hanya mendengarkannya sepotong-sepotong. Ada lirik yang (mungkin) sengaja tidak dinyanyikan. Misalnya lagu Hari Lebaran gubahan Ismail Marzuki di atas ternyata ada lirik mengenai judi, “ Cara orang kota berlebaran lain lagi Kesempatan ini dipakai buat berjudi Sehari semalam main ceki mabuk brandi Pulang sempoyongan kalah main pukul istri Akibatnya sang ketupat melayang ke mate Si penjudi mateng biru dirangsang si istri ” Mungkin lirik tersebut berangkat dari fenomena sosial yang terjadi di masa ketika lagu itu dibuat. Kalau sekarang orang kota cara berlebarannya mungkin lebih ke pamer outfi...
“Baju laki-laki dari zaman dahulu desainnya masih sama, tidak banyak berubah. Baju formalnya jas dan tuksedo. Baju sehari-hari hanya kaos atau kemeja.” Pertanyaan di atas memang ada benarnya. Baju formal laki-laki 100 tahun lalu hingga sekarang masih tidak berbeda jauh. Pakaian perempuan mungkin akan jauh berbeda. Dalam sepuluh atau bahkan lima tahun, tren terus berganti. Namun, bukan berarti menutup pikiran untuk juga belajar fesyen. Mempelajari bagaimana merepresentasikan diri dengan baik melalui pakaian adalah penting bagi para laki-laki. Karena kalau terlewat, bisa jadi fatal dan tidak kurang baik dilihat cara berpakaiannya. Pertama kali saya mendengar masukan tentang cara berpakaian adalah dari komentar juri di salah satu acara penampilan lagu di televisi swasta. Igun (Ivan Gunawan) berkomentar tentang salah satu peserta yang menggunakan kaos kaki putih dengan sepatu hitam dan jas berwarna gelap. Sang desainer memberikan masukan kalau kaos kaki harus selaras dengan atas...